Orang Beriman itu...

Photo By Pinterest 


Dalam sebuah Majelis rutinan di Masjid Darussalam Desa Pemulutan Ulu, ada salah satu kutipan yang saya ambil dari perkataan Habib Hasan Madihij yaitu:

 "Orang beriman itu pandai mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya" 

Demikian, orang yang beriman memiliki pandangan hidup yang lebih dalam daripada sekadar apa yang tampak oleh mata. Ia tidak hanya melihat kejadian sebagai rutinitas atau kebetulan semata, melainkan memaknainya sebagai pesan-pesan Ilahi yang mengandung hikmah. Setiap peristiwa yang terjadi di sekelilingnya, baik kecil maupun besar, menjadi bahan renungan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanannya.

Ketika melihat orang lain tertimpa musibah, seorang mukmin tidak serta-merta berprasangka buruk, melainkan menjadikannya sebagai pengingat agar senantiasa bersyukur dan berhati-hati dalam hidup. Ia belajar bahwa dunia ini fana dan penuh ujian, dan bahwa keselamatan sejati hanya ada dalam perlindungan Allah. Dari musibah orang lain, ia menemukan pelajaran untuk mendekat kepada Tuhannya dan memperbaiki amalnya sebelum datang giliran yang sama menimpanya.

Demikian pula saat menyaksikan keberhasilan orang lain, mukmin yang cerdas tidak dihiasi oleh rasa iri, melainkan mengambil ibrah bahwa kesungguhan dan tawakal membawa pada keberkahan. Ia belajar menghargai proses dan usaha, serta yakin bahwa rezeki tiap hamba telah ditentukan oleh Allah dengan penuh keadilan. Dari keberhasilan itu, ia semakin termotivasi untuk berikhtiar dengan niat yang lurus.

Setiap hal yang dilihat oleh seorang mukmin sejati menjadi cermin untuk dirinya. Ia tidak menyia-nyiakan pandangan, tetapi menjadikannya sebagai sarana introspeksi dan pertumbuhan spiritual. Bahkan hal-hal sederhana seperti melihat dedaunan gugur atau hujan yang turun pun bisa mengingatkannya akan kebesaran Allah, kefanaan dunia, dan perlunya memperbanyak amal sebelum ajal menjemput.

Dengan demikian, orang beriman tidak hidup dalam kelalaian. Ia peka terhadap lingkungan, bijak dalam menyikapi kehidupan, dan selalu mencari hikmah dalam setiap kejadian. Inilah bentuk kecerdasan ruhani yang sejati—di mana pandangan mata disinergikan dengan cahaya iman, hingga hidupnya penuh dengan pelajaran, penghayatan, dan harapan akan ridha Allah SWT.

Comments

Post a Comment